10 Mitos Tentang TBC, Bisa Sembuh?

.
kementriankesehatan - Faktanya, penyakit tbc 95% bisa sembuh, mudah menular, namun tidak harus dirawat di RS, banyak mitos tentang tbc yang beredar dan dipercayai masyarakat, karena kurangnya pemahaman atau sosialisasi tentang penularan, gejala, bahaya, penanganan penderita di rumah, hingga obat.
mitos tentang tbc
mitos tentang tbc
Walaupun tuberculosis merupakan penyakit kronis yang mudah menular. Pada tahun 2018 lalu terdapat kasus sebesar 845.000 di Indonesia dengan tingkat kematian 11 orang perjam namun sebenarnya tingkat kesembuhannya mencapai 95%. Berikut berbagai fakta tentang mitos tbc yang terlanjur beredar di masyarakat, yang mungkin menjadi faktor penyebab tingginya tingkat kematian, karena kurangnya kesadaran kita untuk berobat:

1. Boleh Tidur dengan Penderita Tbc
Pada intinya tbc menular melalui cipratakan air liur. Sehingga tidak masalah bila tidur dengan penderita. Namun dari pengalaman beberapa pasien, untuk mengambil langkah aman demi kesehatan bersama, sebaiknya tidur di pisah, dengan ruangan berbeda. Terutama pada awal pengobatan, biasanya masih mengalami gejala batuk berat, bersin, yang berpotensi menularkan ke orang lain. Sehingga rantai penularan terputus. Tidak mau kan yang sakit sembuh, terus yang sehat sakit, begitu seterusnya.

2. Setelah 2 minggu minum obat, tidak menular lagi.
Tidak benar, sebab dalam 2 pekan belum melakukan pemeriksaan dahak. Pemeriksaan dilakukan setelah 2 bulan. Jadi tidak tahu apakah ludah tersebut sudah tidak mengandung bakteri tuberculosis. Walaupun pada bulan ke dua dinayatakan negatif.

Si penderita, dan keluarga yang merawat wajib menjalankan prosedur kesehatan tb. Sebab tidak terdeteksi melalui laboratorium bukan berarti tidak ada bakteri sama sekali. Bisa juga karena kandunganya sedikit, sehingga tidak terbaca oleh alatnya. Kita tidak pernah tahu sejak kapan tertular, hanya merasa curiga setelah mengalami gejala batuk lebih dari 2 minggu lainnya.

Meskipun sedikit, bakteri tetap bisa berkembang biak, dan aktif kembali. Oleh sebab itu, selama belum dinyatakan sembuh total yang biasanya paling cepat untuk yang sakit tahap pertama selama 6 bulan pengobatan. Maka selama itu, masih berpotensi menular.

3. Penderita tetap bisa bekerja, tidak harus istirahat total.
Orang yang terkena tbc memiliki sistem imun yang lemah, ia akan mudah lelah walaupun hanya pergi ke toilet, pusing, nyeri dada, batuk berat, serta demam. Apabila masih tetap melakukan pekerjaan berat, apalagi kurang istirahat, serta stres. Maka sistem imun juga akan melemah. Alhasil, mempengaruhi kesehatan. Jika dipaksakanpun produktifitas akan terganggu karena kondisi yang belum pulih.

4. Tidak boleh makan pedas.
Saat dulu terkena tb, dua bulan pertama, saya tidak makan pedas, minum es, dan sebagainya. Faktanya boleh saja asal tidak berlebihan. Dan pada 2 bulan pertama sebaiknya jangan dulu. Karena itulah yang saya kerjakan. Baru setelah itu boleh mencoba makan pedas, asal jangan berlebihan, lalu amati apakah berpengaruh terhadap kondisi kesehatan.

Intinya makan pedas tidak mempengaruhi berkembangnya bakteri dalam tubuh, namun meningkatkan resiko batuk. Dan bagi sebagian orang saat batuk merasakan sakit nyeri, atau sesak nafas di dada. Kalau tidak ya, tak apa.

5. TBC penyakit kutukan atau kiriman dukun
Penyakit tbc disebabkan karena bakteri yang dikenal sebagai mycobacterium tuberculosis. Nah bakteri ini terkandung di dalam droplet penderitanya. Penularan umumnya melalui cipratan batuk, atau bersin oleh sebab itu pasien diwajibkan memakai masker di dalam rumah agar tidak menular ke keluarga, atau saat keluar rumah kepada orang lain.

Adapun bakteri ini bisa dilihat dan diketahui melalui pemeriksaan utama di laboratorium, dengan sampel dahak di puskesmas secara gratis. Awalnya kita akan dikasih toples kecil oleh petugas medis puskesmas atau rumah sakit yang nantinya akan diisi dahak kita. Biasanya dahak itu muncul saat kita baru bangun tidur. Lalu kita bahwa toples tersebut ke puskesmas. Dari sana bila tidak memiliki fasilitas lengkap, toples itu akan di bawa ke rumah sakit atau tempat yang memiliki laboratorium untuk diperiksa. Hasilanya akan keluar 2 tiga 3 hari, serta paling lama 7 hari. Apakah positif, reaktif, atau negatif.

Cara kedua dengan tes ronsen, untuk mengetahui ada tidaknya bercak kerusakan paru-paru, serta dahak di dalamnya. Dahulu saya menggunakan tes ronsen di klinik, karena dekat. Itupun karena inisiatif sendiri sebab sudah sebulan lebih badan kurus, keringat dingin, dan puncaknya saat bangun tidur lalu keluar dahak bercampur darah.

Adapun proses ronsen menggunakan sinar x untuk ronsen dengan alat khusus, kita disuruh buka baju, celananya enggak kok, itu digunakan untuk memfoto paru-paru kita. Nah pihak medis akan menganalisa dari foto tersebut apakah kemunginan reaktif tb, atau negatif.

Namun dari pengalaman saya, walaupun ronsen menyatakan kemungkinan tb. Andaikan saja paru-paru kamu terlihat bersih, keputusannya tetap ada pada uji laboratorium melalui dahak ya.

6. Tbc tidak bisa disembuhkan
Awalnya saya juga berpikir demikian, hidup tinggal beberapa hari lagi, setiap hari keluar darah, badan selalu lemas bahkan untuk berjalan ke toilet, apalagi kadang sesak nafas nafas, serta nyeri di dada kanan.

Penyakit ini ditemukan sejak 24 Maret 1882, sudah 138 tahun yang lalu, dan melalui kesabaran penelitian dan dorongan kemanusiaan akan banyaknya korban yang meninggal ditemukan obat yang sangat ampuh bernama OAT (Obat Anti TBC). OAT ini telah terbukti memiliki tingkat kesembuhan mencapai 95%. Semua biaya ditanggung oleh pemerintah, kita hanya perlu memberikan fotocopy KK untuk didata di puskesmas.

7. Ada ramuan herbal yang bisa menyembuhkan TBC.
Begitu banyak artikel yang beredar yang membuat saya menggeleng-gelengkan kepala, bahwa susu kambing, habbatusauda, kunyit, atau rempah-rempah lain bisa menyembuhkan penyakit yang serius ini. Awalnya saya dibelikan ayah obat alami dari akar-karan, serta daun-daunan yang dicampur menjadi satu lalu, disitu tertulis ampuh, serta terbukti. Namun tak ada penelitian mendalam secara ilmiah.

Dari pengalaman dokter yang menangani saya, ada beberapa pasien yang karena bosen minum jadinya beralih ke tradisional. Ada beberapa yang merasa sudah sembuh, badannya sudah membaik. Namun beberapa bulan kemudian kambuh lagi, begitu seterusnya sampai tidak sadar bakteri tersebut menyebar dan menggerogoti semkain banyak paru-paru, akhirnya tiba-tiba menjadi susah diobati karena resisten terhadap OAT.

Beberapa obat herbal bisa membantu meringankan penyakit tbc namun tidak bisa menyembuhkan secara total. Sembuh tidaknya tbc ditentukan dengan tes dahak, melalui uji laboratorium adakah kandungan bakteri tuberculosis di dalamnya.

8. Tbc penyakit turunan
Banyak yang mengatakan bahwa apabila si ayah terkena tbc maka anak serta istrinya juga terkena tbc. Belum tentu. Dari lingkungan yang saya amati, ada ayah yang terkena tb, lalu anaknya terkena tb, lalu istrinya ikut sakit. Maka mereka itu tertular, karena tidak bisa menerapkan protokol kesehatan untuk tbc. Ingat ya penyakit ini ditularkan melalui air liur.

9. Tbc hanya menyerang orang miskin
Orang yang memiliki perekonomian bawah memang memiliki kemungkinan yang lebih tinggi terkena tbc apabila kurangnya asupan nutrisi dan makanan sehat yang membantu kekebalan tubuh. Namun kenyataanya semua orang bisa terkena TBC. Melalui cipratan air liur lewat bersin, batuk atau dahak. Orang yang pada saat terinfeksi bakteri tersebut pada saat kekebalan tubuh lemah, yaitu saat kelelahan, atau telat makan, kurang asupan gizi.

10. TBC bisa sembuh sendiri
Memang saat pertama kali terinfeksi sistem kekebalan tubuh kita akan berusaha melawan namun tidak ada yang menjamin akan kebal terhadap penyakit tersebut. Terutama bagi yang sudah parah, sampai batuk terus disertai darah, semakin kurus, dan sesak nafas, itu sudah diluar kendali daya tahan tubuh kita untuk itu perlu dibantu dengan obat.

11. Tbc hanya menyerang paru-paru
Walaupun kebanyakan menyerang paru-paru namun ada juga yang terinfeksi di bagian kelenjar, dan tulang.

12. Penderita harus dirawat di rumah sakit
Saat petugas klinik yang meronsen saya memberitahu bahwa pengobatan tbc biasanya 6 bulan. Saya berfikir, akan dirawat di rumah sakit selama itu. Namun nyata kita hanya perlu meminum obat selama 6 bulan, itupun kita tidak harus setiap hari mengambilnya.

Bisa mengambilnya untuk 1 atau 2 minggu di puskesmas. Itupun bisa diwakilkan oleh keluarga. Kita datang ke puskesmas biasanya untuk berkonsultas ke petugas medis di puskesmas tentang perkembangan kesehatan kita, apakah batuknya sudah berkurang? Bila belum, dibantu dengan dikasih gratis obat batuk.

Bagaimana berat badannya sudah naik? Bila belum, biasanya kalau belum 2 bulan sih memang tidak ada kenaikan, nantinya akan diberi saran makanan tinggi protein, minum susu, serta buah-buahan secara rutin.

Bagaimana apakah masih keluar darah? Apakah sesak nafas semakin parah? Nanti akan dikasih tahu resep yang membantu meringankannya. Atau punya keluhan lain seperti kenapa lambung sakit saat minum teh, dan sebagainya.

13. Tbc hanya menyerang orang yang sudah tua
Pada faktanya kebanyakan kasus dialami pada usia produktif 15-65 tahun. Saya malah kena pada usia 21 tahun, baru pertama kali kerja, sedang semangatnya. Ingat ya ditularkan melalui droplet dengan cipratan batuk, bersin, atau berbicara. Pada usia muda biasanya banyak yang belum sadar akan pentingnya pola hidup bersih serta sehat, makanan bergizi, dan resiko begadang.

14. Batuk darah sudah pasti tbc
Tidak selalu batuk berlendir disertai darah adalah tbc. Ingat ya tbc itu karena bakteri tuberculosis. Jika tidak ada ya berarti bukan, pendarahan bisa juga karena adanya infeksi di saluran utama paru-paru terpatnya pada bronkus jika demikian maka orang tersebut terkena bronkitis.
mitos tentang tbc
batuk tbc
Semoga jelas dan bermanfaat. Bagi yang sedang minum ramuan herbal, jangan tertipu dengan kesembuhan semu, yang kambuh lagi, sebelum semakin parah sebaiknya memeriksa diri ke puskesmas yang gratis. Kamu bisa kok, saya juga bisa minum obat terus menerus tanpa putus selama 6 bulan.

Serta jangan sampai berbohong bahwa telah meminum obat hanya karena sudah agak enakan, seperti batuk reda, demam hilang, karena tubuh tidak bisa membohongi dan malah akan memberikan celah kepada bakteri untuk berkembang biak, alhasil akan terjadi kambuh suatu hari nanti. Salam dari mantan penderita Tbc yang sudah bebas.

Komentar

Trending

Penderita TBC Boleh Minum Es? (Pengalaman Pribadi)

Bolehkah Penderita TBC Makan Mie? (Pengalaman Pribadi)

Contoh Menu Makanan untuk Penderita Tbc Sampai Sembuh

Cara Menaikan Berat Badan 4 Kg Bagi Penderita Tbc (Pengalaman Pribadi)

Susu Beruang Bagus Untuk Penderita Tbc (Pengalaman)

Penderita Tbc Boleh Minum Susu Sebelum atau Setelah Minum Obat? (Pengalaman Pribadi)

Penderita Tbc Jangan Mandi Air Dingin Dulu