5 Bulan Pengobatan TBC

.
kementriankesehatan.com - Pada tanggal 28 Agustus 2018, obat saya habis, artinya saya sudah menjalani 5 bulan pengobatan, tinggal sebulan lagi selesai. Tidak sabar rasanya ingin cepat sembuh.
Sampai di puskesmas seperti biasa penuh, dan saya bergegas menuju ke ruang TBC. Ternyata di sana, ada tiga orang yang saya pikir satu keluarga. Seorang bapak yang duduk di kursi roda, dan seorang ibu, dan seorang remaja, yang sibuk main gadget. Saya tak masuk karena takut mengganggu. Tapi dimana dokter yang biasa menangangi kami?
"5 bulan pengobatan tbc"
CC: pxhere
Mungkin ia sedang mengambil obat, pikir saya.
Jadi saya menunggu di depan ruangan, duduk di bangku panjang.
Selama hampir setengah jam, rupanya dokternya belum datang. Saya pikir, ini seperti sebelum-sebelumnya, Pak Dokter sedang sibuk, atau keluar. Jadi saya memutuskan untuk masuk ruangan lalu mengatakan, numpang menimbang.
Si ibu mempersilakan.
"Pak A mau datang ke sini?!"
Ia hanya menjawab, "Iya."
Sebenarnya saya nanya, tapi Si Ibu mungkin menganggapnya saya memberitahu kalau Pak Dokter akan ke sini. 
Agak mengecewakan, karena berat badan saya ternyata tidak naik. Sejak terkena penyakit ini,saya rutin mengontrol berat badan, dan menjadi sedih apabila turun atau tetap. Semua ini mungkin karena pola makan kemabli seperti semula, sebab badan udah agak enak. Biasanya saya selalu memakasa mau tidak mau jam segini harus makan dst.
Sayapun kembali, dan menduga mereka tidak mengabari, atau membuat janji terlebih dulu dengan Pak A. Dan lucunya, saya juga, jadi segera saya mengirimi pesan padanya, memberitahukan bahwa saya di puskesmas. Tak berselang lama, ia datang, dan sepertinya buru-buru kemari. Saya jadi merasa tidak enak hati.
Kartu pengambilan obat saya serahkan, dan ia bertanya, apakah saya tdiak membawa dahak? Saya mengatakan tidak, karena memang tidak dikasih.
Ia agak panik sedikit karena seharusnya pemeriksaan dahak itu di bulan ke 2, 5, dan 6. Sedangkan sekarang sudah habis bulan ke 5. Jadi ia segera pergi ke laboratorium, dan mengambil toples kecil untuk dahak, menyuruh saya masuk ruang TB, lalu keluar lewat pintu belakang. Ternyata di belakang ada semacam, ruangan dahak, sebuah westafel yang diberi sekat dengan triplek. Saya suruh meludah di sana. Haha.
Saya mencoba meludah sebanyak-banyaknya, namun susah sekali. Dahaknya tidak mau keluar. Ia bilang, seadanya saja.
Setelah selesai, mencuci tangan, meletakannya di meja belakang, saya keluar, dan ia memberikan obat tersebut, sebuah tempat dahak lagi. Saya sempat mengulurkan tangan akan mengambil kartu, namun  teringat kalau ini terkahir kali saya mengambil obat.
Ia bilang, diminum tiga tablet seperti biasa.
"Bagaimana ada keluhan?"
"Tidak pak. Saya sudah sembuh, sehat."
"Ya syukur kalau begitu. Asal rajin minum obat."
Sebelum berpisah ia berpesan.
"Jangan merokok lagi ya." Katanya.
"Ya." Batin saya.

Komentar

Trending

Penderita TBC Boleh Minum Es? (Pengalaman Pribadi)

Bolehkah Penderita TBC Makan Mie? (Pengalaman Pribadi)

Contoh Menu Makanan untuk Penderita Tbc Sampai Sembuh

Cara Menaikan Berat Badan 4 Kg Bagi Penderita Tbc (Pengalaman Pribadi)

Susu Beruang Bagus Untuk Penderita Tbc (Pengalaman)

Penderita Tbc Boleh Minum Susu Sebelum atau Setelah Minum Obat? (Pengalaman Pribadi)

Penderita Tbc Jangan Mandi Air Dingin Dulu