Pengalaman Pribadi Terkena TBC, Sebelum, Saat, dan Sesudah Sembuh

.
kementriankesehatan.com - Tak pernah terpikir sebelumnya, bahwa batuk yang saya alami ternyata pertanda terkena penyakit TBC. Sejak kecil setiap batuk, saya selalu minum obat berbentuk sirup, atau minum rebusan daun sirih yang tak lama kemudian biasanya sembuh, tak sedikitpun berfikir ini tanda-tanda tbc. Tapi kali ini, batuk yang membuat saya tak bisa tidur, tak sembuh-sembuh selama berbulan-bulan, walaupun telah menghabiskan tiga botol obat, dan berbagai obat lain.
 
Awalnya saya tak curiga, setiap meludah setelah bangun pagi, dahak berwarna kekuningan. Saya pikir, ini hanya efek karena merokok. Ya, saya memang tiap hari paling tidak, menghabisakan duapuluh batang rokok, biasnaya saya beli dua bungkus untuk satu hari. Pulang jam 6 atau sembilan biasanya walaupun mengantuk saya tak tidur, bermain game, hingga pukul enam lagi, atau tujuh, dan selama itu saya terus merokok, tidur hanya sebentar sekitar setengah sampai satu jam, sebelum bekerja.
"pengalaman terkena tbc"
source: pixabay
Dan ketika saya tanya saudara, katanya secara profesional ia menjawab itu proses alami pengeluaran nikotin. Benar juga, nikotin kan warnanya kekuningan. Jadi saya mencoba untuk minum air segelas penuh sebelum tidur. Hasilnya, ludah tidak lagi berwarna kuning. Saya senang sekali waktu itu.
 
Namun ternyata itu hanya bertahan sementara. Seminggu atau duaminggu kemudian, setelah bangun tidur, saya meludah bercampur dahak, dengan bercak merah. Saya pikir, itu paling gusi atau mulut yang terluka karena terlalu keras menyikat gigi.
Sampai suatu ketika, saya yang hobi begadang merasa sangat lelah, dan cape luar biasa.
 
Ternyata, mungkin karena jarang istirahat, dan sering merokok, jarang olahraga juga. Singkatnya pola hidup tidak sehat inilah yang membangkitkan penyakit tbc dalam diri saya, dan melemahkan sistem kekebalan tubuh saya yang ternyata selama sebulan itu sedang memberontak dari penjajahan bakteri TBC.
 
Pada saat jam istirahat kerja, saya pinjam tikar teman saya yang tinggal di kantor. Kantor cabang dimana saya bekerja menyewa sebuah ruko kecil, ada tiga lantai, lantai satu dan dua untuk kerja, dan lantai tiga untuk tinggal. Tapi karena teman saya jaga, ia tidur di lantai bawah dengan tikar. Saya tidur nyenyak sekali, dan bahkan berpendapat, hal paling indah yang dilakukan adalah tidur. Maklum seharian tidak tidur. Namun saat bangun, hidung saya terasa tersumbat. Agak aneh, karena saya tidak flu. Tubuh saya terasa dingin. Saya berdiri, dan ke toilet untuk membuang ingus ini. Lalu tenggorokan saya terasa ada yang mengganjal, seperti ada makanan yang nyangkut
 
"pengalaman terkena tbc"
source : wikimedia
Ya Tuhan, ternyata yang keluar darah merah pekat, menggumpal, bahkan ketika saya meludah lagi, keluar darah, meludah lagi yang keluar darah. Dan saya syok, limbung, pusing, lalu tidur lagi. Saya bilang pada rekan saya, minta tolong menemani saya cek ke klinik. Beruntung saya punya teman yang baik. Ia mau melakukannya. Dan beruntungnya itu hari kamis, jum'at tanggal 30 Maret libur nasional, itu berarti saya libur tiga hari karena sabtu minggu kerjaan juga libur. Ketika di klinik, saya ceritakan kejadian tersebut pada petugas yang mengantar, dan menangani saya ronsen. Bahwa tadi saya batuk darah. Ia tak mengatakan apapun, Cuma oh, oh, oh. Sepertinya ia tak ingin membuat saya syok. Saat pemotretan paru-paru pertama, ia mengatakan untuk melakukan sekali lagi karena hasilnya kurang bagus. Jadi saya menurut saja. Dan ketika selesai, saya bertanya, bagaiman pak?
“Ada infiltratnya.”
“Infiltrat apa?”
“Bercak/luka. Kemungkinan TB.”
Katanya hasil resminya tidak bisa diambil sekarang, paling besok, dan saat itu teringat besok tanggal merah. Jadi saya ambil sabtu, yang mengambil saudara saya dengan kertas bukti pembayaran di klinik tersebut. Ternyata hasilnya positif, TBC. Bener-bener syok. Orang-orang mulai menjauh, kecuali orangtua yang sengaja datang, karena perminataan kakak saya. Saya bilang, saya tidak apa-apa. Tapi karena melihat mereka bersikukuh, jadi saya menurut, dan pulang kampung. Ya Tuhan, bagaimana pekerjaan saya? Sampai rumah, saya dijengkuk Nenek. Dan setelah diberi saran oleh saudara saya yang bekerja di puskesmas, ia mengatakan untuk di puskesmas saja, di rumah sakit, atau di dokter paru, obat TBC itu sama saja. Malah di puskesmas gratis, karena informasi itu, saya menurut.

Di sana, saya hanya menyerahkan fotokopi KK, dan menunjukan hasil ronsen, dan ingat saya bpjs kesehatan saya sudah lama tidak aktive, dan mereka tak mempermasalahkan. Lalu saya diceritakan tentang orang-orang yang datang ke puskesmas, salah satunya ada penderita yang menulari saudaranya. Ia depresi, dan merasa berdosa. Lalu gantung diri. Mungkin pak petugas kesehatan yang menangani saya itu sedang melawak.
Artikel Terkait : Yang Dibutuhkan Penderita TBC
Kemudian datang ahli gizi, ahli lingkungan hidup atau apalah saya lupa, stau persatu menerangkan tentang apa yang boleh dan yang tak boleh dimakan, jendela harus dibuka setiap pagi, tidak boleh meludah sembarangan dan seterusnya, dan seterusnya.

"pengalaman terkena tbc"

Setelah ritual itu selesai, saya pulang, dan mulai meminum obat. Malamnya, saya demam tinggi, dan batuk-batuk. Ya Tuhan, apa ini karena efek obatnya. Saya baru bisa tidur sekitar pukul empat atau lima pagi, tepat setelah azdan subuh. Saya pikir, umur saya tinggal sebentar lagi.
Dan esoknya, badan saya pegal-pegal, tulang punggung saya linu, dan perut saya mual, atau perih. Rasanya badan saya jadi seperti kayu yang lapuk. Obat ini, juga memiliki efak samping lain seperti mual, dan bila sudah mual saya langsung makan, dan sembuh. Bahkan, untuk nahan kencing sebentar, saja perut rasanya mual, dan sakit.

Berita buruknya lagi, hari pertama di pagi hari saya masih mengeluarkan sesendok darah setiap batuk. Selama satu bulan. Dan kalian tahu, setiap sesendok darah itu keluar, dada terasa ditusuk jarum, dunia berputar-putar, dan limbung, dan sesak nafas. Jadi saya konsultasikan ke petugas puskesmasnya, dan ia menyarankan untuk beli obat di apotik, kalnek buat menghentikan pendarahan.

Saya disuruh minum tiga tablet sehari, itu maksimal, tapi baru minum satu tablet, saya kena serangan asma mendadak. Saya buru-buru mengambil kertas, dan pensil yang ada di sana, dan menuliskan permintaan terakhir. Ya karena saya pikir itu waktu sakaratul maut, tapi tak ada malaikat jibril yang datang, juga tak ada cahaya putih seperti di Film. Saya di situ menulis, bahwa novel saya tolong selesaikan, atau kirimkan ke penerbit. Waktu itu saya masih maniac menulis fiksi. Namun beruntungnya beberapa menit kemudian, saya bisa bernafas lega. Saya bersyukur sekali tak jadi mati hari itu. Dan saya tak mungkin melupakannya. Dan permintaan terakhir itu kemudian saya sobek2. :)

Setelah kejadian tersebut, pernafasan saya mulai berubah. Entah kenapa kadang seperti tersendat-sendat dalam bernafas, dan kadang berat untuk menarik nafas, rasanya oksigen yang masuk sedikit sekali.

Tapi dua kali saya minum obat tersebut, selama dua hari, dan jumlahnya duabutir, batuk saya tidak lagi mengeluarkan darah. Dan selama itu saya rutin makan-makanan tinggi protein, dan harus tak bosan, rutin minum susu, sehingga pada bulan kedua saya menimbang berat badan saya yang awalnya 51,8 KG, jadi 55,8 KG. Naik empat kilo.
Artikel Terkait : Berat Badan Naik 4 KG, Padahal Lagi Terkena TBC
Batuk sudah sembuh, tidak lagi keluar darah. Dan merasa sehat, namun untuk olahraga sebentar saja semisal push up sepuluh kali, langsung ngos-ngosan. Tapi ya, saya sudah mendingan. Cek dahak terakhir, pada akhir dua bulan pengobatan hasilnya negative. Dan pada bulan ke 5 juga negative. Pada bulan ke 6, saya serahkan dahak namun tidak bertanya hasilnya apa. Karenaa tubuh sudah sehat dan bugar. Kartu untuk pengambilan obat sudah diserahkan, dan itu hari terakhir ketemu Pak D yang menangani saya. Saya sangat berterimakasih. Sejak saat itu ia berkata, untuk menjaga kesehatan, dan jangan merokok lagi.

Rasanya senang, sekarang tidak adalagi aktivitas setiap beberapa minggu ke puskesmas, memakai masker, malu bertemu orang (setidaknya berkurang), batuk, demam, keringat dingin, dan teman-temannya telah pergi jauh. Hehe.

Bagi teman-teman yang sedang dalam masa pengobatan. Semangat! kuncinya disiplin. Semoga cepat sembuh dan sehat selalu.

Komentar

  1. Keren tulisanya bang ,dulu waktu malam apa sering keluar keringat dingin bang?

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah berkomentar :)

Trending

Penderita TBC Boleh Minum Es? (Pengalaman Pribadi)

Bolehkah Penderita TBC Makan Mie? (Pengalaman Pribadi)

Contoh Menu Makanan untuk Penderita Tbc Sampai Sembuh

Cara Menaikan Berat Badan 4 Kg Bagi Penderita Tbc (Pengalaman Pribadi)

Susu Beruang Bagus Untuk Penderita Tbc (Pengalaman)

Penderita Tbc Boleh Minum Susu Sebelum atau Setelah Minum Obat? (Pengalaman Pribadi)

Penderita Tbc Jangan Mandi Air Dingin Dulu