Kehabisan Obat TBC, dan Orang-Orang yang Menunggu

.
kementriankesehatan.com - Tepat hari minggu kemarin, tanggal 25 Juni 2018 obat anti TBC (OAT) lanjutan, atau yang berwarna kuning habis. Senin ini, bisa dibilang, hari yang mulai sibuk setelah libur panjang lebaran.
Saya sampai di puskesmas pukul sembilan pagi, dan seperti biasa, ramai sekali. Banyak orang yang sampai menunggu di luar, duduk-duduk di lantai yang sebenarnya bukan tempat duduk.
"kehabisan obat tbc"
source: commons.wikiemdia
Di dalam penuh dengan orang, kursi-kursi tunggu tak ada yang kosong, dan seperti biasa saya langsung menuju ke ruangan TBC.
Namun sampai di sana, tak ada petugas yang menangani saya. Saya pikir, ia paling sedang keluar, karena kadang-kadang saya bertemu dengannya di parkiran dan ia baru saja memfotokopi brosur, atau saya sedang masuk, ia sedang membawa dokumen, atau kadang-kadang saya tunggu sebentar di depan ruangan, dan dengan mudah ditemui beberapa saat kemudian mondar-mandir mengurusi yang lain.
Kali ini, saya sudah menunggu sekitar sepuluh menit, dan tak seperti biasanya ia tak kelihatan, dan bahkan tak menunjukan tanda-tanda. Dalam waktu menunggu yang membosankan itu, saya mengamati orang-orang yang juga menunggu.
Selama hampir setengah jam, akhirnya saya tak sabar, dan berkeliling untuk mencari petugas puskesmas yang biasa menangani penderita TBC. Awalnya, saya mengecek lagi, ruangan khusus TBC, yang kedua saya mengecek ke ruangan dokter gigi siapa tahu dia juga ikut menangai masalah gigi, yang ketiga saya mengecek ke ruangan obat/farmasi, ruangan itu saya harap menjadi ruangan harapan saya, karena ia biasanya pergi ke sana mengambilkan obat saya. Tapi tak ada, semua terlihat asing bagi saya. Dan saya kembali duduk, dan menunggu.
Selama setengah jam, saya kemudian berfikir, mungkin ia sedang ada urusan, atau saya yang kesiangan ke puskesmas karena bisanya ia selalu menyarankan saya untuk datang pada pukul delapan, karena pukul delapan ke atas ia biasanya rapat, atau seminar ke luar kota, dan sebagianya.
Namun biar bagaiamanapun, hari ini saya harus minum obat.
Akhirnya, saya memberanikan diri ke bagian laboratorium. Petugasnya tidak asing, karena saya pernah ke sana.
Baca juga ya :
1. Berobat TBC di Puskesmas
"Maaf, Mba, Pak A hari ini masuk?" Kata saya, pada Bu B.
Ia langsung menyuruh saya menunggu, dan ia berkeliling dari ruangan ke ruangan lain mencari Pak A. Anaknya yang paling kecil mengikuti dari belakang, namun hampir seluruh ruangan di cek, dan tak ketemu. Akhirnya ia kembali, dan masuk ke ruangan laboratorium lagi. Si C yang juga orang laboratoriaum, bertanya pada saya, apakah akan mengambil obat?
"Iya." Jawab saya, bagaimana dia tahu, apa Bu B yang memberitahu.
Saya berikan kartu untuk mengambil obat tersebut yang tidak lain, adalah sebuah kertas bertulis tangan Pak A, tanggal pengambilan obat, dan tanggal obat habis. Ia menyuruh saya menunggu dan segera pergi ke ruang obat.
Melihat si C, saya jadi teringat akan dahulu ketika tes HIV, ia yang menyuntik saya, dan hanya karena saya takut darah, atau jarum suntik, ia menertawai saya. Waktu itu benar-benar mendebarkan, menunggu hasil tes HIV.
Sembari menunggu ia mengambil obat, saya memandangi lagi orang-orang yang menunggu, dan kadang kita saling berpandangan. Namun di saat itu, ada sebuah kejadian lucu; seorang anak kecil berteriak dari dalam ruangan gigi. Dia berteriak-teriak ketakutan, dan orang-orang di luar, termasuk saya, yang dari tadi saat menunggu tak tersenyum, atau mungkin tak berekspresi tiba-tiba tersenyum. Dan anak kecil itu masih berteriak, sehingga orang-orang tersenyum-senyum lagi, Bu Dokter yang menanganinya, ikut tersenyum karena tak sengaja membuat anak orang lain menangis, dan tak lama kemudian anak itu berhenti menangis. Tak lama kemudian, Bu C datang dan memberikan obat anti TBC pada saya. Saya sangat berterimakasih, dan sangat lega.
Tapi kejadian anak menangis itu membuat saya berfikir lain, atau bertanya-tanya, penyakit yang dialami seorang, hanya orang itu yang tahu bagaimana sakitnya? Dan sangat tidak layak untuk ditertawakan.
Bukankah TBC demikian?
Sekian, semoga bermanfaat.

Komentar

Trending

Penderita TBC Boleh Minum Es? (Pengalaman Pribadi)

Bolehkah Penderita TBC Makan Mie? (Pengalaman Pribadi)

Contoh Menu Makanan untuk Penderita Tbc Sampai Sembuh

Cara Menaikan Berat Badan 4 Kg Bagi Penderita Tbc (Pengalaman Pribadi)

Susu Beruang Bagus Untuk Penderita Tbc (Pengalaman)

Penderita Tbc Boleh Minum Susu Sebelum atau Setelah Minum Obat? (Pengalaman Pribadi)

Penderita Tbc Jangan Mandi Air Dingin Dulu