Hikmah Terkena TBC

.
kementriankesehatan.com - Kadang-kadang saya bertanya-tanya, ketika memikirkan penyakit yang saya alami ini; TBC. Kenapa Tuhan memberikan penyakit ini pada saya? Kenapa bukan pada orang lain yang terkena tbc? Sampai orangtua saya mengatakan bahwa anggap saja itu sebuah peringatan dari Tuhan. Ada benarnya juga. Dan saya mulai merenunginya, ada hikmah di balik tekena TBC ini.

1. Rajin Beribadah
Bisa dibilang, saya termasuk orang sibuk, atau sok sibuk sebelum terkena penyakit ini. Bekerja di sebuah perusahan kecil, di ibukota. Berangkat pagi, dan pulang malam. Walau tak tentu. Kadang bolak-balik Jakarta-Banten bertemu seorang yang katanya penting. Katanya. Kadang malah lembur sampai pagi, saya pernah mengalaminya, dan beberapa teman juga. Mereka sampai tidur di kantor. Jadi kangen mereka. Untuk sekedar sholat, hampir-hampir tak sempat. Saya lebih takut kehilangan pekerjaan, atau dimarahi atasan daripada dimarahi Tuhan, atau lebih tepatnya masuk neraka. Barangkali waktu itu, saya tidak takut sama Tuhan. Dan karena saya tak jadi dimarahi atasan, maka mungkin, ya mungkin hal ini dimarahi Tuhan.

2. Dekat Orangtua
Selama saya bekerja, saya ingat hanya sekali dalam tahun itu saya pulang. Tahun baru kemarin, saya tidak pulang, saudara kandung saya pulang. Kemudian, om saya pulang, semua pulang, bahkan teman saya. Orangtua sampai menanyakan kenapa saya tidak pulang. Rasanya tidak lengkap bila anak-anaknya tidak pulang semua. Namun ya, perusahaan menyuruh hari itu juga selesai. Dan setelah terkena penyakit ini, selama enam bulan saya terus di rumah. Setiap hari bisa melihat orangtua, berbicara, dan mendengar keinginan mereka. Saya jadi terpikir, bagaimana bila saya sudah berkeluarga? Apakah akan melupakan mereka seperti yang dilakukan beberapa orang di sekitar saya, dimana orangtua ditinggalkan, atau dilupakan, lalu baru berkunjung ketika sudah meninggal. Dan hal itu dianggap lumrah, atau wajar. Penyakit TBC ini benar-benar mendekatkan saya pada orangtua.

3. Menghargai Waktu
Biasanya seperti halnya anak muda, malam hari saya juga kadang menongkrong dengan teman-teman. Kumpul-kumpul tidak jelas, main game sampai pagi, atau lainnya. Sekarang rasanya, saya ingin melakukan hal-hal yang lebih produktive.
Saya juga belum mengumrohkan orangtua, saya masih kurang ibadahnya, saya ingin melakukan hal-hal yang berguna bagi saya, dan orang lain. Penyakit ini, telah mengubah pola pikir saya, bahwa begadang itu tidak berguna, dan tidak baik bagi kesehatan. Mengejar materi memang penting, tapi kaya tapi tidak sehat itu miris.

4. Menghargai Orang Lain
Bisa dibilang penyakit tbc ini adalah penyakit mematikan. Dan ketika mengetahui terkena ini, saya menganggap umur tinggal beberapa menit, atau hari lagi, kalau beruntung seminggu lagi. Dan saat memikirkan itu saya terkenang akan hal-hal indah, dan tidak indah selama hidup. Rasanya, banyak hal yang tidak berguna yang saya lakukan. Banyak kehidupan saya, atau selain saya yang saya maki-maki. Walau penyakit ini, seingat saya, adalah hal ketiga saya selamat dari kematian.
Terkenannya penyakit tbc ini, membuat saya lebih menghargai oranglain, dalam tandakutip, lebih menghormati orang lain. Tidak peduli apakah ia kena tbc atau tidak, anak-anak, atau orangtua atau terkena penyakit lain. Saya akan mencoba menghargainya.
Baca Ya:
1. Orang yang Rentan Terkena Tbc
5. Mengahargai Diri Sendiri
Sehat itu mahal. Kata itu barangkali hanya berarti bagi orang sakit. Saat sehat saya tak peduli berapa banyak batang rokok yang dihabiskan dalam sehari, berapa banyak gorengan, atau makanan yang mengandung minyak jahat, atau kolesterol tinggi. Tak peduli seberapa pedas makanan itu. Tak peduli, apakah makanan itu lebih banyak gizinya daripada bahan kimia berbahayanya. Setelah sakit, saya jadi lebih menghargai makanan apa yang boleh dimakan, dan yang tidak boleh. Saya mengurangi makanan instan, bumbu-bumbu masak instan, atau segala yang instan lain.
"terkena tbc"
source: pixabay
6. Memahami Arti Kasih Sayang
Salah satu hal yang saya sadari adalah kasih sayang orangtua. Dari semua orang di dunia ini, saya kira saya tidak melebih-lebihkan. Hanya orangtua yang mau merawat saya, dan tentu saya terharu. Betapa banyak hal tidak enak yang telah saya lakukan pada orangtua, menyinggung, menyakiti mereka. Namun mereka tetap menyayangi saya. Bahkan mereka menerima saya walaupun saya kena penyakit yang terkenal keburukannya ini.

7. Mengetahui Mana yang Benar-Benar sayang
Saat kita sehat, barangkali akan sulit membedakan mana yang sayang dan mana yang tidak sayang. Tapi ketika kita sakit tbc, dan andaikan diceritakan bisa dibilang banyak orang yang menjauh, teman-teman yang tak mau berteman lagi, tetangga barangkali, atau bahkan kekasih, atau yang lainnya. Semua orang yang dahulunya begitu dekat, sekarang menjauh. Dan baru sadar kalau kelompok orang yang benar-benar menyayangki kita adalah keluarga. Kita jadi tahu mana yang ada perlunya saja, mana yang memang selalu ada.

Demikian hikmah Terkena TBC. Semoga bermanfaat.

Komentar

Trending

Bolehkah Penderita TBC Makan Mie? (Pengalaman Pribadi)

Penderita Tbc Jangan Mandi Air Dingin Dulu

Cara Menaikan Berat Badan 4 Kg Bagi Penderita Tbc (Pengalaman Pribadi)

Susu Penderita Tbc Untuk Menaikan Berat Badan

Contoh Menu Makanan untuk Penderita Tbc Sampai Sembuh

Penderita TBC Boleh Minum Es? (Pengalaman Pribadi)

Pengertian Keperawatan Terbaru Menurut Para Ahli