Pengalaman Berobat TBC di Puskesmas

.
kementriankesehatan.com - Saya tidak ingat, kapan terakhir ke puskemas. Barangkali waktu masih digendong. Dan setelah saya didiagnosa TBC Aktive lewat tes ronsen di klinik. Saya pulang kampung. Kata Budhe saya, berobat di mana saja obatnya sama; oat. Kecuali berobat di alternative. Yang katanya, hanya membuang-buang waktu, dan tenaga.

Atas rekomendasinya, saya disuruh berobat di puskesmas, karena selain gratis segalanya akan dia urus. Saya bersyukur karena telah dimudahkan, dan tentu berterimakasih.

Sampai puskesmas kota, saya heran, ada begitu banyak orang, dan yang anehnya lagi, memiliki ruangan yang berbeda-beda seperti rumah sakit; ruangan dokter gigi, ruangan obat, ruangan TBC, ruang persalinan, dokter umum, dan sebagainya. Oh, puskesmas sudah berkembangakah? Atau saya yang kurang gaul.

Sampai sana, saya langsung menuju ke ruang TBC, dan langsung menemui Pak A. Sebelumnya, saya sudah berjanji bertemu beliau, direncanakan oleh saudara saya. Pak A teman saudara saya itu. Tapi sampai di sana, tak ada orang. Hanya sebuah papan peringatan, seperti pigura besar tentang sosialisi penyakit tersebut, gambar paru-paru yang rusak.

Kala saya ke ruangan TBC, sebenarnya agak malu. Namun saya beranikan diri, dan bertanya pada seorang di ruangan laboratorium, kalau saya mau ketemu Pak A. Ia mengatakan untuk menunggu sebentar, waktu itu saya sangat kurus, dan tak memakai masker.

Saya berikan hasil ronsen itu padanya, dan ia langsung membuka, menunjuk-nunjuk, bagian putih-putih di foto ronsen itu yang tidak lain adalah lukanya.

Saya disuruh masuk ke ruangan itu, dan dinteriograsi.
source: pixabay
Waktu itu saya masih takut karena belum tahu penyakit itu, tapi ia ceritakan kalau kemarin ada yang berobat, atau ada banyak orang yang terkena, dia juga pulang dari Jakarta, di Jakarta memang tinggi yang tertular karena padat.

Saat ia mengambil obat, saya menimbang, berat badan saya ternyata cuma 51,8 KG. Ketika dia kembali, ia sudah membawa obat. Lalu menyuruh saya minum 3 tablet. Tak sampai di situ, datang ahli gizi, ahli lingkungan hidup, atau ahli lain yang saya lupa namanya, intinys berkaitan dengan rutinitas yang harus dilakukan, apa yang boleh, dan yang tidak boleh. Semua petugasnya memakai masker berlapis. Ya dua buah masker kecuali petuas yang menangani saya.

Saya merasa tidak enak karena saya tidak memakai masker waktu datang. ya waktu itu saya tidak tahu. Tapi mereka ramah, dan baik. Tapi ternyata, rasa lega saya karena telah mendapatkan obat, dan karena katanya pasti sembuh segera hilang karena petugasnya menggiring saya keruangan laboratorium untuk tes HIV.

Sekian.

Komentar

Trending

Bolehkah Penderita TBC Makan Mie? (Pengalaman Pribadi)

Penderita Tbc Jangan Mandi Air Dingin Dulu

Cara Menaikan Berat Badan 4 Kg Bagi Penderita Tbc (Pengalaman Pribadi)

Susu Penderita Tbc Untuk Menaikan Berat Badan

Contoh Menu Makanan untuk Penderita Tbc Sampai Sembuh

Penderita TBC Boleh Minum Es? (Pengalaman Pribadi)

Pengertian Keperawatan Terbaru Menurut Para Ahli